Sejarah PERSIB (Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung) adalah kisah tentang perlawanan, identitas nasionalisme, dan konsistensi menjadi salah satu klub terbesar di Indonesia. Klub kebanggaan Jawa Barat ini memiliki akar yang sangat kuat sejak zaman kolonial.
Berikut adalah garis waktu perjalanan sejarah PERSIB:
1. Masa Pergerakan Nasional (1923–1933)
Sebelum menyandang nama Persib, benih klub ini sudah muncul pada tahun 1923 dengan berdirinya Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB).
Alat Perjuangan: BIVB adalah organisasi sepak bola bangsa Indonesia di Bandung untuk menandingi dominasi klub-klub Belanda (VBBO).
Dualisme dan Merger: Sempat muncul dua organisasi serupa, yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetbal Bond (NVB). Pada 14 Maret 1933, kedua organisasi ini sepakat untuk melebur menjadi satu nama: PERSIB.
2. Era Perserikatan (1930-an – 1994)
Persib menjadi salah satu kekuatan utama dalam kompetisi amatir kasta tertinggi Indonesia saat itu.
Gelar Pertama: Persib meraih juara nasional untuk pertama kalinya pada tahun 1937 setelah mengalahkan Persis Solo di Jakarta.
Era Emas 80-an & 90-an: Persib dikenal dengan julukan "Maung Bandung" dan mencatatkan prestasi gemilang di bawah asuhan pelatih lokal. Mereka menjuarai Perserikatan pada musim 1986, 1989/1990, dan yang paling prestisius adalah musim terakhir Perserikatan 1993/1994.
3. Juara Liga Indonesia Pertama (1994/1995)
Ketika Liga Indonesia (gabungan Perserikatan dan Galatama) resmi digulirkan untuk pertama kalinya pada musim 1994/1995, Persib mencatatkan sejarah tinta emas.
Tanpa menggunakan pemain asing sama sekali, Persib yang dilatih oleh Indra Thohir berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra 1-0 di Senayan lewat gol legendaris Sutiono Lamso.
Berkat gelar ini, Persib juga sempat melaju hingga perempat final Piala Champions Asia pada tahun 1995.
4. Masa Paceklik dan Kebangkitan (1996–2013)
Setelah juara tahun 1995, Persib mengalami masa sulit selama hampir dua dekade tanpa gelar liga. Meskipun selalu dihuni pemain bintang dan memiliki dukungan suporter (Bobotoh) yang luar biasa besar, langkah Persib sering terhenti di babak-babak krusial.
5. Era ISL dan Akhir Penantian 19 Tahun (2014)
Di bawah kepemimpinan pelatih Djajang Nurdjaman, penantian panjang Bobotoh berakhir pada tahun 2014.
Final Palembang: Persib menjuarai Indonesia Super League (ISL) 2014 setelah mengalahkan Persipura Jayapura melalui adu penalti di Stadion Gelora Sriwijaya, Palembang.
Piala Presiden 2015: Tak lama setelah juara liga, Persib juga mengamankan trofi Piala Presiden edisi pertama di Gelora Bung Karno.
6. Era Modern dan Juara Liga 1 (2023/2024)
Setelah format liga berganti menjadi Liga 1, Persib terus berupaya menjaga konsistensi sebagai tim papan atas. Di bawah arahan pelatih Bojan Hodak dan ketajaman striker David da Silva, Persib kembali merengkuh gelar juara kasta tertinggi pada musim 2023/2024 setelah menaklukkan Madura United di partai final Championship Series.
Fakta Menarik Persib:
Warna Biru: Identitas warna biru Persib sudah melekat sejak awal berdirinya sebagai simbol kesejukan dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat.
Bobotoh: Salah satu basis suporter terbesar di Asia dengan berbagai sub-kelompok seperti Viking Persib Club dan Bomber.
Siliwangi ke GBLA: Persib yang lama bermarkas di Stadion Siliwangi kini telah memiliki markas utama yang megah di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA).