Sejarah Bali adalah perjalanan panjang yang memadukan kepercayaan spiritual, pengaruh kerajaan Hindu-Jawa, hingga perjuangan heroik melawan kolonialisme. Pulau ini berhasil mempertahankan identitas budayanya yang unik di tengah perubahan zaman.
Berikut adalah tahapan penting dalam sejarah Bali:
1. Masa Prasejarah (Hingga 200 M)
Bali telah dihuni sejak zaman batu (Mesolitikum). Penemuan alat-alat batu dan nekara perunggu di wilayah Sembiran (Buleleng) menunjukkan bahwa masyarakat Bali kuno sudah melakukan perdagangan dengan India dan Vietnam Utara sejak abad ke-1 Masehi. Masyarakat awal ini sering disebut sebagai Bali Aga, yang jejak budayanya masih bisa ditemukan di desa-desa seperti Tenganan dan Trunyan.
2. Pengaruh Budaya Hindu-Buddha dan Kerajaan Awal (Abad ke-8 - 13)
Agama Hindu dan Buddha mulai masuk ke Bali, membawa perubahan besar pada sistem pemerintahan.
Dinasti Warmadewa: Didirikan oleh Sri Kesari Warmadewa pada abad ke-10 (Prasasti Blanjong). Salah satu raja paling terkenal dari dinasti ini adalah Udayana, ayah dari Airlangga yang nantinya menjadi raja besar di Jawa Timur. Hubungan antara Bali dan Jawa menjadi sangat erat sejak masa ini.
3. Era Ekspansi Majapahit (1343)
Titik balik terbesar sejarah Bali terjadi ketika Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343.
Transformasi Budaya: Setelah jatuhnya Majapahit di Jawa, banyak bangsawan, seniman, dan pemuka agama Hindu pindah ke Bali. Hal ini membawa pengaruh besar pada struktur kasta, aksara, arsitektur punden berundak, dan sistem pengairan Subak.
Kerajaan Gelgel: Setelah Majapahit runtuh, pusat kekuasaan di Bali berpindah ke Gelgel di bawah kepemimpinan Dalem Baturenggong, yang dianggap sebagai masa keemasan budaya Bali.
4. Perpecahan Menjadi Kerajaan-Kerajaan Kecil
Pada abad ke-17, kekuasaan Gelgel mulai melemah dan Bali terpecah menjadi sembilan kerajaan kecil (Sembilan Kerajaan Bali), yaitu: Klungkung, Karangasem, Buleleng, Mengwi, Badung, Tabanan, Gianyar, Bangli, dan Jembrana. Meski terpecah, mereka tetap mengakui Raja Klungkung (Dewa Agung) sebagai pemimpin spiritual tertinggi.
5. Masa Kolonial dan Perang Puputan (Abad ke-19 - 1908)
Belanda mulai berusaha menguasai Bali sejak pertengahan abad ke-19, dimulai dari serangan ke Buleleng.
Puputan: Istilah ini merujuk pada perlawanan habis-habisan hingga tetes darah terakhir untuk menjaga kehormatan. Peristiwa paling terkenal adalah Puputan Badung (1906) dan Puputan Klungkung (1908). Raja-raja dan rakyat Bali lebih memilih gugur dalam pertempuran daripada menyerah kepada penjajah Belanda.
6. Kebangkitan Pariwisata dan Seni (1930-an)
Pada tahun 1930-an, Belanda mulai mempromosikan Bali sebagai destinasi wisata budaya untuk meredam citra negatif akibat kekejaman Perang Puputan. Kedatangan seniman asing seperti Walter Spies dan Rudolf Bonnet membantu memperkenalkan seni Bali ke kancah internasional dan mendorong lahirnya aliran seni modern tanpa menghilangkan akar tradisinya.
7. Perang Kemerdekaan dan Masa Modern
Setelah Proklamasi 1945, rakyat Bali kembali berjuang melawan kembalinya Belanda.
Puputan Margarana (1946): Perang besar yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai. Ia dan pasukannya (Ciung Wanara) gugur sebagai pahlawan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Sejak tahun 1958, Bali secara resmi menjadi sebuah provinsi dengan ibu kota Denpasar. Saat ini, Bali dikenal sebagai pusat pariwisata dunia yang unik karena mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan pelestarian adat istiadat berdasarkan filosofi Tri Hita Karana (keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam).